0

Turki Utsmani dan Aceh: Seperti Ayah dan Anak (Bagian 2)

Seperti sudah kita ketahui bahwa Khilafah Turki Utsmani memiliki hubungan yang amat erat dengan Kesultanan Aceh pada sekitar abad ke-16 M dan abad ke-19 M. Pada abad ke-16 M, Aceh pernah mengirim dutanya yang bernama Husein Efendi, dengan maksud meminta bantuan militer kepada Sultan Suleyman Al Qanuni. Sayangnya, ketika itu Sultan Suleyman sedang memimpin sebuah pengepungan di Szigetvar, Hongaria. Pada pengepungan itu Sultan Suleyman wafat.

Permohonan bantuan ini kemudian dilanjutkan penanganannya oleh penerus Sultan Suleyman, yaitu Sultan Selim II. Beliau menerima permohonan Sultan Aceh dan menitipkan sebuah surat kepada Husein Efendi untuk Sultan Aceh. Seperti ini petikan suratnya yang dikutip dari Ismail Hakki Goksoy, seorang cendekiawan Turki.

“Mantan Laksamana Iskenderiye, Kurtoglu Hizir Reis, telah ditunjuk untuk memimpin armada laut ini. Sudah menjadi perintah saya kepadanya sesampainya dia di Aceh, tugas beliau adalah untuk menghancurkan musuh dan menduduki benteng dari para kafir. Saya juga katakan kepada anda laksamana yang kami maksud, ahli meriam dan pasukan yang lain, junior atau senior, harus memenuhi perintah anda (maksudnya Sultan Aceh), dan bekerja di sisi anda sesuai dengan perintah agama dan etika militer anda. Mereka yang membantah perintah anda akan mendapat hukuman langsung dari laksamana. Gahi pasukan yang dikirim akan kami tanggung selama setahun. Anda perlu mengirimi kami dokumen (temessuk) atas kembalinya para pembuat senjata setelah mereka selesai dengan pekerjaan mereka, dan untuk memberitahu kami urusan-urusan yang lain lewat Mustafa Chavush. Untuk mereka yang terus berada di sana, anda perlu mengikuti perintah apapun yang saya keluarkan. Ketika surat anda datang ke sini, ayah saya Sultan Suleyman Han sedang bertempur dengan para kafir dalam Perang Szigetvar di Hongaria. Setelah benteng berhasil dikuasai, beliau meninggal dan saya menggantikannya. Saya sudah memutuskan untuk memerangi para kafir di daerah anda. Kami akan selalu mengirim pasukan kepada anda untuk memerangi musuh agama dan membersihkan mereka yang menyerang tanah Islam di pesisir-pesisir tersebut. Anda harus menginformasikan kepada kami secara detil apa saja yang terjadi apa saja yang terjadi di daerah anda, sesuai cara anda menangani masalah. Kapal-kapal layar telah dipersiapkan, mereka akan berangkat setelah semua muatan dinaikkan. Duta besar anda yang datang ke sini, beliau menjalankan tugasnya dengan baik dan beliau sekarang kami kirim balik dengan dukungan penuh dari kami (7 Numarah Muhimme Defteri 1996h: 90-3, 124-6).

Sultan Selim II menyetujui mengirim Kurtoglu Hizir Reis untuk membantu Aceh dalam menumpas hegemoni Portugis di perairan Aceh yang kerap kali menyerang jamaah haji dan para pedagang di Nusantara. Surat tersebut menjadi bukti otentik betapa eratnya hubungan kepulauan Nusantara ini dengan Khilafah Islamiyah, dan berbagai lontaran para pembenci Syariah bahwa negeri tidak ada hubungannya dengan Khilafah adalah isapan jempol belaka. Dengan demikian tegaknya syariah dan Khilafah di negeri ini adalah sebuah keniscayaan.

Sayf Muhammad Isa on Facebook
Sayf Muhammad Isa
Saya adalah no one. Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma seorang anak laki-laki biasa yang bernama Muhammad Isa. Katanya saya dilahirkan pada tanggal 3 Juni 1986, di RSUD R. Syamsuddin, SH, Sukabumi. Bapak saya orang Padang, ibu orang Sunda. Saya menamatkan SD sampai SMP di Bekasi, kemudian pindah lagi ke Sukabumi. Masa-masa SMA saya lewati di Sukabumi.

Tapi kemudian saya menyadari, bahwa hidup yang menakjubkan dari Allah ini begitu berharganya kalau hanya dilewati sebagai no one. Saya ingin menjadi some one. Menjadi some one itu pilihan. Kalau saya tidak memutuskan menjadi some one, selamanya saya akan tetap menjadi no one. Hidup menjadi no one sangat menjemukan. Maka saya pun memilih. Saya merenungkan dengan cara apa saya akan menjadi some one, dan saya memutuskan bahwa saya akan menjadi some one dengan menulis. Tapi bukan sekedar menulis, saya hanya ingin menuliskan perjuangan. Perjuangan mempertahankan Islam, perjuangan menyerukan Islam, dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Dengan cara itu saya ingin membuat hidup saya berwarna dan luar biasa. Mari sama-sama menjadi some one.

Sayf Muhammad Isa

Saya adalah no one. Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma seorang anak laki-laki biasa yang bernama Muhammad Isa. Katanya saya dilahirkan pada tanggal 3 Juni 1986, di RSUD R. Syamsuddin, SH, Sukabumi. Bapak saya orang Padang, ibu orang Sunda. Saya menamatkan SD sampai SMP di Bekasi, kemudian pindah lagi ke Sukabumi. Masa-masa SMA saya lewati di Sukabumi. Tapi kemudian saya menyadari, bahwa hidup yang menakjubkan dari Allah ini begitu berharganya kalau hanya dilewati sebagai no one. Saya ingin menjadi some one. Menjadi some one itu pilihan. Kalau saya tidak memutuskan menjadi some one, selamanya saya akan tetap menjadi no one. Hidup menjadi no one sangat menjemukan. Maka saya pun memilih. Saya merenungkan dengan cara apa saya akan menjadi some one, dan saya memutuskan bahwa saya akan menjadi some one dengan menulis. Tapi bukan sekedar menulis, saya hanya ingin menuliskan perjuangan. Perjuangan mempertahankan Islam, perjuangan menyerukan Islam, dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Dengan cara itu saya ingin membuat hidup saya berwarna dan luar biasa. Mari sama-sama menjadi some one.