0

Pertempuran Walaja

532984218_ae4174e9ec

Pertempuran Walaja adalah pertempuran yang terjadi di Mesopotamia (Irak) pada Mei 633 Masehi antara Khilafah Rasyidah di bawah komando Khalid bin Walid dan Mutsanna bin Harits, melawan pasukan Kekaisaran Sassan Persia dan aliansi Arabnya. Pada perang ini, dikatakan bahwa pasukan Sassan Persia berjumlah tiga kali lebih banyak dari pasukan Muslim.

Khalid secara mencengangkan mengalahkan pasukan Persia yang jumlahnya lebih besar dengan menggunakan variasi taktik manuver double envelopment, mirip dengan manuver Hannibal yang digunakan untuk mengalahkan kekuatan Romawi di Perang Cannae; namun, Khalid dikatakan telah mengembangkan taktik ini sendiri secara independen.

Pendahuluan

Nabi Muhammad wafat pada 8 Juni 632 Masehi, Abu Bakar menggantikannya sebagai Khalifah pertama. Khilafah Abu Bakar berlangsung selama 27 bulan, yang sepanjang rentang waktu itu dia menghancurkan pemberontakan kabilah-kabilah Arab di sepanjang Semenanjung Arabia dalam pertempuran yang berhasil melawan kaum murtad dan menegakkan kembali otoritas Madinah di seluruh Arabia. Ketika pemberontakan telah diredakan, Abu Bakar sadar bahwa Kekaisaran Sassan Persia dan Kekaisaran Bizantium keduanya mengancam perbatasan negara Islam yang baru lahir dan usaha untuk pasifikasi kedua kekaisaran ini hanya akan berujung pada invasi. Dia kemudian meluncurkan serangan melawan Kekaisaran Persia dan Kekaisaran Bizantium, menyiapkan lintasan sejarah yang hanya dalam beberapa dekade kemudian terbentuklah salah satu kekaisaran terbesar dalam sejarah. Setelah Perang Riddah, seorang kepala kabilah Muslim menyerang kota-kota di perbatasan Persia di Irak. Setelah kesuksesan serangan-serangan ini, Abu Bakar merencanakan untuk memperluas wilayahnya. Dia memulai dengan Irak, yang saat itu di bawah kekuasaan Kekaisaran Sassan Persia. Penting sekali bagi Abu Bakar bahwa invasinya tidak boleh kalah, karena hal itu bisa saja mengkonfirmasi dan menguatkan ketakutan akan kekuatan pasukan Persia (saat itu bangsa Arab takut sekali pada Persia). Untuk menghadapi hal ini, dia memutuskan bahwa pasukan yang akan berperang dengan Persia akan terdiri dari seluruhnya sukarelawan. Di dalam pasukan itu dia meletakkan jenderal terbaiknya, Khalid bin Walid. Muslim menginvasi Kekaisaran Sassan Persia pada April 633, dan mengalahkan pasukan Peria dalam dua perang yang berurutan: Perang Rantai dan Perang Sungai. Strategi besar Khalid adalah menghasilkan kerugian besar bagi pasukan Persia. Juga, berusaha meminimalisir perlawanan yang ditemukannya di sepanjang rute perjalanan pasukannya, dengan sasaran utama menguasai Al-Hira.

Konsentrasi Pasukan Persia

Setelah Perang Sungai, pasukan Khilafah Rasyidah di bawah kepemimpinan Khalid sekali lagi bergerak menuju Hira; sementara itu kabar kekalahan di Perang Sungai tiba di Ctesiphon. Komandan-komandan dari pasukan Persia yang dikalahkan disebut-sebut merupakan yang paling berpengalaman dan paling dipandang hebat di tengah-tengah istana Sassan Persia. Kaisar Sassan Persia, Yazdegerd III memerintahkan konsentrasi dua pasukan; mengikuti perintah Yazdegerd III, pasukan Persia mulai berkumpul di ibukota kekaisaran. Mereka datang dari semua kota dan garnisun kecuali mereka yang menjaga perbatasan dengan Kekaisaran Bizantium. Hanya dalam beberapa hari, pasukan pertama berkumpul dan siap. Persia mengharapkan pasukan Islam untuk terus maju mengikuti Sungai Eufrat menuju sebelah baratlaut Irak, karena mereka tahu bahwa pasukan Islam tidak akan bergerak pergi dari gurun, karena mereka tahu pasukan Islam akan menggunakan gurun itu untuk melarikan diri jika saja mereka menderita kekalahan. Berharap pasukan Muslim bergerak ke barat, Yazdegerd III memilih Walaja sebagai tempat untuk menghentikan Khalid bin Walid dan menghancurkan pasukannya. Pasukan Persia pertama dari Ctesiphon ditempatkan di bawah komando Andarzaghar, gubernur provinsi Khurasan. Andarzaghar diperintahkan untuk menggerakkan pasukannya ke Walaja, yang kemudian nanti dia akan bergabung dengan pasukan kedua. Dia berangkat dari Ctesiphon, bergerak di sepanjang tepian timur Sungai Tigris, menyeberangi Sungai Tigris di Kaskar, bergerak ke barat daya ke Eufrat, dekat Walaja, menyeberangi Eufrat dan mendirikan perkemahan di Walaja.

Sepanjang perjalanan ke Walaja, jenderal Persia mengambil ribuan orang Arab yang bersedia bertempur di bawah komandonya. Dia juga mengambil komando atas sisa-sisa pasukan yang bertempur di Perang Rantai dan Perang Sungai. Ketika sampai di Walaja, dia menunggu Bahman, yang akan bergabung dengannya dalam beberapa hari. Bahman adalah komandan pasukan kedua, dan salahsatu figur dengan pangkat tertinggi dalam hirarki militer Kekaisaran Sassan Persia. Dia diperintahkan oleh kaisar untuk membawa pasukan kedua ke Walaja, di mana Andarzaghar akan menunggunya. Rencananya adalah, Bahman akan memimpin kedua pasukan itu, dan menghancurkan pasukan Rasyidun yang jumlahnya jauh lebih sedikit dalam sebuah pertempuran sengit. Bahman bergerak melalui jalur terpisah dengan Andarzaghar. Dari Ctesiphon, dia bergerak ke selatan antara dua sungai, mengarah langsung ke Walaja, tetapi dia meninggalkan Ctesiphon beberapa hari setelah pasukan pertama berangkat, menyebabkan penundaan.

Persiapan Pasukan Muslim

Perang Sungai telah menjadi kemenangan yang penting bagi pasukan Muslim. Saat mereka terus-menerus hanya mendapatkan kerugian kecil, pasukan Muslim sanggup mengalahkan pasukan Persia yang jumlahnya jauh lebih banyak dan memperoleh banyak sekali harta rampasan perang. Saat itu Khalid telah berhasil mengorganisasi sebuah jaringan agen intelijen yang sangat efisien. Agen-agennya adalah orang Arab lokal yang bermusuhan dengan Persia. Para agen itu menginformasikan kepada Khalid tentang konsentrasi pasukan Persia yang baru di wilayah sekitar Walaja dan jumlah mereka yang jauh lebih banyak. Khalid harus segera tiba di Hira, dan Walaja tepat sekali berada di dalam rutenya ke sana. Dengan pasukan berjumlah sekitar 15.000 prajurit, Khalid berangkat mengarah ke Hira, bergerak dengan cepat di sepanjang tepian selatan dari rawa besar. Beberapa hari sebelum Bahman datang, pasukan Khalid tiba dan berkemah di sekitar Walaja. Sejumlah besar pasukan Persia yang melarikan dari perang sebelumnya kembali mengangkat senjata. Yang selamat dari Perang Rantai bergabung dengan Qarin dan bertempur Perang Sungai. Yang selamat di Perang Sungai bergabung dengan Andarzaghar dan sekarang berkemah di Walaja. Pasukan Muslim menghadapi dua tantangan, satu strategis dan satu taktis:

  1. Secara Strategis: Dua pasukan Sassan Persia akan bergabung untuk melawan mereka. Untuk memecahkan masalah ini, komandan Muslim, Khalid bin Walid, bertekad untuk maju dengan cepat, bertempur, dan memusnakan pasukan pertama (Andarzaghar) sebelum pasukan lainnya (Bahman) datang di tempat pertempuran.
  2. Secara Taktis: mencegah komandan musuh melarikan diri dari medan perang untuk bertempur kembali pada perang selanjutnya. Untuk menyelesaikan taktik ini, Khalid berencana untuk menjebak dan memusnahkan pasukan Persia di medan perang.

Khalid memberi perintah kepada Suwaid bin Muqarrin untuk melihat kepada administrasi dari distrik yang ditaklukkan bersama tim dan stafnya, dan meletakkan detasemen untuk menjaga bagian bawah Sungai Tigris dari kemungkinan datangnya musuh dari utara dan timur, dan untuk memberi peringatan pada pasukan musuh yang masih segar yang datang dari arah-arah itu.

Persebaran Pasukan

Medan perang terdiri dari sebuah dataran yang setara yang membentang di antara dua punggung bukit yang rendah dan rata, yang terpisah sejauh 2 mil dan tingginya 20 sampai 30 kaki. Bagian timurlaut dataran itu mengarah kepada gurun yang tandus. Di jarak yang tak jauh yang melampaui punggung bukit sebelah timurlaut itu mengalirlah salah satu cabang Sungai Eufrat, yang kemudian dikenal juga sebagai Sungai Khaseef. Pada Mei 633, pasukan menyebar untuk bertempur, masing-masing terdiri atas bagian tengah dan sayap. Pasukan sayap Muslim kembali dipimpin oleh Asim bin Amr dan Adi bin Hatim.

Komandan pasukan Persia, Andarzaghar, menyebar pasukannya di bagian tengah dataran itu, menghadap ke tenggara, dengan punggung bukit sebelah barat ada di belakang mereka, dan sayap kiri mereka beristirahat di sis timurlaut lereng bukit. Khalid membangun pasukannya untuk menghadapi pasukan persia. Bagian tengah medan perang berjarak sekitar 2 mil sebelah tenggara dari wilayah yang sekarang di sebut Ainul Muhari, 35 mil sebelah tenggara dari kota Najaf yang ada sekarang ini, dan 6 mil sebelah tenggara wilayah yang sekarang ini bernama Ash Shinafiyah. Jumlah kavaleri Persia dikalahkan oleh jumlah kavaleri Muslim. Kavaleri Persia utamanya terdiri dari kavaleri berat dan ditempatkan di belakang pasukan sayap, menjaga sisi pasukan. Khalid memiliki 5000 pasukan kavaleri dan 10.000 pasukan infanteri bersamanya. Saat mengetahui bahwa jumlah kavalerinya mengalahkan jumlah kavaleri Persia, dia merancang manuver besarnya. Rencananya adalah melakukan pengepungan total pasukan Persia menggunakan kavalerinya yang superior.

Daripada meluncurkan kavalerinya melewati bagian sayap (seperti yang dilakukan Hannibal pada Perang Cannae), Khalid menggunakan kondisi medan, dan memposisikan sebagian kavalerinya di belakang lereng sebelah barat medan perang. Khalid memecah kavalerinya menjadi 2 resimen yang masing-masing berjumlah 2000 prajurit, mengirim mereka ke belakang lereng sebelah barat pada malam sebelum pertempuran. Mereka diperintahkan untuk menyerang bagian belakang pasukan Persia ketika Khalid memberi sinyal.

Hari Pertempuran

Khalid menghadapi pasukan Persia dengan 5000 kavaleri dan 10.000 infanteri. Kavaleri dibagin menjadi dua bagian sama rata dan ditempatkan di bagian pinggir. Strategi komandan Persia, Andarzaghar, adalah strategi defensif dan membiarkan Muslim menyerang duluan. Dia berencana untuk menahan serangan sampai pasukan Muslim kelelahan, dan kemudian meluncurkan serangan balasan untuk menghalau pasukan Muslim yang kelelahan. Fase pertama pertempuran berlangsung sebagaimana rencana Andarzaghar. Khalid memerintahkan serangan umum. Pasukan Persia memiliki pasukan cadangan untuk ditempatkan menggantikan prajurit di garis depan, membuat mereka berada di atas angin dari pasukan Muslim dan menolong mereka untuk meluncurkan strategi mereka untuk membuat pasukan Muslim kelelahan. Selama masa ini, Khalid dikatakan berduel dengan seorang juara Persia yang berbadan besar yang dikenal sebagai Hazar Mard (seribu lelaki) dan membunuhnya, yang kemudian menjadi kemenangan psikologis bagi umat Islam. Fase pertama berakhir, fase kedua dimulai dengan serangan balasan pasukan Sassan Persia. Mungkin karena melihat tanda-tanda kelelahan dari pasukan Muslim, Andarzaghar menetapkan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk melancarkan serangan balasan. Pada saat itu, pasukan Persia, didukung oleh kavaleri beratnya, melancarkan serangan umum pada garis depan pasukan Muslim. Pasukan Islam sanggup menahan mereka untuk beberapa saat, tetapi pasukan Persia terus menekan. Di bawah perintah Khalid, bagian tengah pasukan Islam mundur pelan-pelan dari medan perang sementara pasukan sayap Muslim tetap bertahan di tempatnya. Peristiwa ini menciptakan garis depan berbentuk bulan sabit, dan membuat pasukan Persia semakin masuk dan terjebak di dalam formasi ini.

Pada saat inilah, Khalid memberi sinyal pada pasukan kavaleri dan mereka menyerang bagian sayap pasukan Persia. Kavaleri ringan Muslim sanggup menyerang dengan kecepatan yang luar biasa, dan bisa dengan sukses menyerang, mundur, berkumpul kembali, dan kemudian menyerang lagi. Mobilitas yang cepat ini membuat mereka di atas angin dari kavaleri berat Persia, dan mereka berhasil mengusir pasukan kavaleri Persia. Mereka menyerang bagian sisi dan bagian belakang pasukan Persia dan mulai mengelilinginya. Bagian utama pasukan Muslim di bawah komando Khalid bin Walid meneruskan serangan pada garis depan pasukan Persia, sementara di saat yang sama memperluas jangkauan pasukan sayapnya untuk bergabung dengan pasukan kavaleri yang menyerang bagian belakang pasukan Persia dan dengan sempurna mengepung pasukan Persia. Pasukan Andarzaghar masuk dalam jebakan dan tidak bisa keluar. Ketakutan akan serangan itu datang dari segala arah, pasukan Persia berkumpul dalam kerumunan yang kacau, tak bisa menggunakan senjata mereka dengan bebas. Pertempuran berakhir, dengan kerugian berat pada pasukan Persia. Namun, beberapa ribu prajurit kekaisaran, dan Andarzaghar sendiri, berhasil melarikan diri.

Akhir Peperangan

Setelah mengalahkan pasukan lainnya dari kekaisaran Persia dan aliansi Kristen Arab mereka di Perang Ullais, pasukan Muslim menaklukkan Hira, ibukota Mesopotamia pada akhir Mei 633. Disusul dengan penaklukkan Al-Anbar dan pengepungan Ain-al Tamr yang sukses. Dengan jatuhnya kota-kota utama seluruh bagian selatan dan tengah Irak, kecuali Ctesiphon, berada di bawah kekuasaan Islam. Pada 634 Masehi, Abu Bakar memerintahkan Khalid bin Walid bergerak ke Suriah bersama setengah pasukannya untuk mengomando penaklukan Kekaisaran Bizantium. Al Mutsanna bin Haritsah al Syaibani ditinggalkan untuk menggantikan posisi Khalid di Irak. Kekaisaran Sassan Persia di bawah kaisarnya Yazdegerd III, membangun pasukan baru dan mengalahkan pasukan Islam di Pertempuran Jembatan, mengambilalih kembali wilayah mereka yang hilang di Irak. Serangan kedua atas Irak diambilalih oleh Sa’ad bin Abi Waqqash yang, setelah mengalahkan pasukan Persia dalam Perang Qadisiyah pada 636, menaklukkan Ctesiphon. Setelah Perang Nihawand pada 641 Masehi skala menyeluruh dari invasi Kekaisaran Persia berhasil diakhiri oleh Khalifah Umar bin Khaththab.

Sayf Muhammad Isa on sabfacebook
Sayf Muhammad Isa
Saya adalah no one. Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma seorang anak laki-laki biasa yang bernama Muhammad Isa. Katanya saya dilahirkan pada tanggal 3 Juni 1986, di RSUD R. Syamsuddin, SH, Sukabumi. Bapak saya orang Padang, ibu orang Sunda. Saya menamatkan SD sampai SMP di Bekasi, kemudian pindah lagi ke Sukabumi. Masa-masa SMA saya lewati di Sukabumi.

Tapi kemudian saya menyadari, bahwa hidup yang menakjubkan dari Allah ini begitu berharganya kalau hanya dilewati sebagai no one. Saya ingin menjadi some one. Menjadi some one itu pilihan. Kalau saya tidak memutuskan menjadi some one, selamanya saya akan tetap menjadi no one. Hidup menjadi no one sangat menjemukan. Maka saya pun memilih. Saya merenungkan dengan cara apa saya akan menjadi some one, dan saya memutuskan bahwa saya akan menjadi some one dengan menulis. Tapi bukan sekedar menulis, saya hanya ingin menuliskan perjuangan. Perjuangan mempertahankan Islam, perjuangan menyerukan Islam, dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Dengan cara itu saya ingin membuat hidup saya berwarna dan luar biasa. Mari sama-sama menjadi some one.

Sayf Muhammad Isa

Saya adalah no one. Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma seorang anak laki-laki biasa yang bernama Muhammad Isa. Katanya saya dilahirkan pada tanggal 3 Juni 1986, di RSUD R. Syamsuddin, SH, Sukabumi. Bapak saya orang Padang, ibu orang Sunda. Saya menamatkan SD sampai SMP di Bekasi, kemudian pindah lagi ke Sukabumi. Masa-masa SMA saya lewati di Sukabumi. Tapi kemudian saya menyadari, bahwa hidup yang menakjubkan dari Allah ini begitu berharganya kalau hanya dilewati sebagai no one. Saya ingin menjadi some one. Menjadi some one itu pilihan. Kalau saya tidak memutuskan menjadi some one, selamanya saya akan tetap menjadi no one. Hidup menjadi no one sangat menjemukan. Maka saya pun memilih. Saya merenungkan dengan cara apa saya akan menjadi some one, dan saya memutuskan bahwa saya akan menjadi some one dengan menulis. Tapi bukan sekedar menulis, saya hanya ingin menuliskan perjuangan. Perjuangan mempertahankan Islam, perjuangan menyerukan Islam, dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Dengan cara itu saya ingin membuat hidup saya berwarna dan luar biasa. Mari sama-sama menjadi some one.