0

Pertempuran Sungai

Menurut sumber-sumber Arab Muslim, Pertempuran Sungai terjadi di Mesopotamia (Iraq), antara kekuatan Khilafah Rasyidah dan Kekaisaran Sassan Persia. Pasukan Islam, di bawah komando Khalid bin Walid, mengalahkan pasukan Persia yang jumlah secara numerik jauh lebih banyak.

Pendahuluan Perang

Nabi Muhammad wafat pada 8 Juni 632, dan Abu Bakar menggantikannya sebagai Khalifah pertama. Masa kekhilafahan Abu Bakar berlangsung selama 27 bulan, sepanjang waktu itu ia menghancurkan berbagai pemberontakan di sekitar kabilah-kabilah Arab dan juga melakukan ekspedisi militer yang sukses dalam dalam menghancurkan kaum murtad, dan mengokohkan kekuasaan negara Islam di Madinah ke seluruh Arabia. Ketika seluruh pemberontakan telah berhasil dipadamkan, Abu Bakar memulai perang penaklukan. Ia meluncurkan serangan melawan Kekaisaran Sassan Persia dan Kekaisaran Bizantium yang kemudian dalam sejarah membuka jalan menuju terbentuknya kekaisaran yang luas hanya dalam beberapa dekade.

Setelah Perang Riddah, seorang pemimpin kabilah Muslim menyerang sebuah kota perbatasan Persia di Iraq. Setelah sukses dengan serangan-serangan itu, Abu Bakar berencana untuk memperluas kekuasaannya. Dia memulai dengan Iraq, sebuah provinsi Persia yang kaya. Setelah ratusan tahun kejayaan dan keagungan Persia, sangatlah penting bagi pasukan Abu Bakar untuk tidak menerita kekalahan, sebab kekalahan itu hanya akan memastikan kekuatan dan rasa takut akan militer Persia. Untuk mengatasi masalah ini, maka ia memutuskan bahwa pasukan yang akan bergabung dalam penyerangan Persia ini harus terdiri dari sukarelawan. Dia mengangkat jenderal terbaiknya, Khalid bin Walid, untuk memberi komando. Muslim menyerang Kekaisaran Sassan Persia pada April 633 dan mengalahkan pasukan Persia pada Perang Rantai, di mana Marzban (gubernur provinsi) Hormuz terbunuh oleh Khalid bin Walid dalam sebuah duel.

Latar Belakang

Sebelum Perang Rantai, Marzban Hormnuz menulis surat kepada Kaisar Persia tentang ancaman dari Semenanjung Arab ini dan mengkonsentrasikan pasukan untuk pertempuran, terdiri dari sejumlah besar pasukan Kristen Arab, dan sebelum pertempuran itu, kaisar mengirim pasukan besar di bawah pimpinan Jenderalnya yang bernama Qarin, misinya adalah melindungi Ubullah yang merupakan kota pelabuhan penting bagi Persia, kalau-kalau Muslim mengalahkan Marzban Hormuz.

Persiapan Perang

Persiapan Persia

Setelah Perang Rantai, sejumlah kecil pasukan Persia yang kabur di bawah pimpinan Qubaz dan Anoshgan bergabung dengan pasukan Qarin, para prajurit yang selamat pada Perang Rantai melaporkan kepada komandan mereka bagaimana veteran perang Persia mengabaikan perintah komandan dan bahkan bergabung dengan pasukan Muslim setelah masuk Islam, dan akan berhadapan dengan wajib militer yang tidak berpengalaman, dan akan mempengaruhi mereka agar pulang saja. Qarin panik dan memutuskan untuk bertempur di luar Ubullah di sebuah tempat bernama al Madhar, karena dia mengira bahwa prajurit Persia yang telah masuk Islam itu tidak akan mengetahui wilayah tadi. Qarin memilih tempat ini karena dekat dengan Sungai Eufrat, sehingga memudahkan pasukan reguler Persia tiba di sana.

Persiapan Muslim

Khalid mengatahui bahwa Persia telah menempatkan pasukannya di al Madhar, kemudian dia memimpin pasukannya, dan mengirimkan sebuah pasukan kecil di bawah pimpinan Mutsana bin Harist. Tujuannya adalah tiba di tempat itu sebelum pasukan Persia mengumpulkan kekuatannya dan menyerang mereka selagi mereka lemah dan kurang persiapan, seperti di banyak pertempuran, taktik ini akan membuat Khalid sanggup mengeksploitasi dan mengeksekusi banyak manuver sebelum pasukan Persia yang lebih berpengalaman bisa bereaksi. Ketika Khalid tiba, dia melihat kapal-kapal Persia baru saja tiba di tepian sungai, dan segera memahami bahwa pasukan Persia masih belum melakukan apa-apa dan tidak siap untuk berperang. Pasukan Islam membidik tempat untuk menyerang sebelum pasukan yang lebih berpengalaman tiba.

Sayf Muhammad Isa on Facebook
Sayf Muhammad Isa
Saya adalah no one. Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma seorang anak laki-laki biasa yang bernama Muhammad Isa. Katanya saya dilahirkan pada tanggal 3 Juni 1986, di RSUD R. Syamsuddin, SH, Sukabumi. Bapak saya orang Padang, ibu orang Sunda. Saya menamatkan SD sampai SMP di Bekasi, kemudian pindah lagi ke Sukabumi. Masa-masa SMA saya lewati di Sukabumi.

Tapi kemudian saya menyadari, bahwa hidup yang menakjubkan dari Allah ini begitu berharganya kalau hanya dilewati sebagai no one. Saya ingin menjadi some one. Menjadi some one itu pilihan. Kalau saya tidak memutuskan menjadi some one, selamanya saya akan tetap menjadi no one. Hidup menjadi no one sangat menjemukan. Maka saya pun memilih. Saya merenungkan dengan cara apa saya akan menjadi some one, dan saya memutuskan bahwa saya akan menjadi some one dengan menulis. Tapi bukan sekedar menulis, saya hanya ingin menuliskan perjuangan. Perjuangan mempertahankan Islam, perjuangan menyerukan Islam, dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Dengan cara itu saya ingin membuat hidup saya berwarna dan luar biasa. Mari sama-sama menjadi some one.

Sayf Muhammad Isa

Saya adalah no one. Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma seorang anak laki-laki biasa yang bernama Muhammad Isa. Katanya saya dilahirkan pada tanggal 3 Juni 1986, di RSUD R. Syamsuddin, SH, Sukabumi. Bapak saya orang Padang, ibu orang Sunda. Saya menamatkan SD sampai SMP di Bekasi, kemudian pindah lagi ke Sukabumi. Masa-masa SMA saya lewati di Sukabumi. Tapi kemudian saya menyadari, bahwa hidup yang menakjubkan dari Allah ini begitu berharganya kalau hanya dilewati sebagai no one. Saya ingin menjadi some one. Menjadi some one itu pilihan. Kalau saya tidak memutuskan menjadi some one, selamanya saya akan tetap menjadi no one. Hidup menjadi no one sangat menjemukan. Maka saya pun memilih. Saya merenungkan dengan cara apa saya akan menjadi some one, dan saya memutuskan bahwa saya akan menjadi some one dengan menulis. Tapi bukan sekedar menulis, saya hanya ingin menuliskan perjuangan. Perjuangan mempertahankan Islam, perjuangan menyerukan Islam, dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Dengan cara itu saya ingin membuat hidup saya berwarna dan luar biasa. Mari sama-sama menjadi some one.