0

Mengutuk Demokrasi, Tapi Menikmatinya

demokrasi

Lontaran lain yang kerap kali dialamatkan kepada pihak-pihak yang menolak demokrasi adalah “mengutuk demokrasi, tetapi menikmatinya.” Mereka menyatakan bahwa orang-orang yang tidak mau menerima demokrasi itu adalah orang yang tidak tahu diri dan tidak tahu terima kasih, karena tindakan mereka menolak demokrasi itu sebenarnya adalah karena berkah demokrasi. Kalau kran demokrasi tidak dibuka lebar-lebar, tentunya orang-orang seperti itu tidak akan diberi kesempatan untuk meneriakkan penolakan mereka terhadap demokrasi.

Sekilas, lontaran di atas kedengarannya benar. Setelah berlalunya rezim Orde Baru, kran demokrasi dibuka lebar-lebar melalui Reformasi. Setiap orang bebas untuk menyatakan pendapat dan opininya. Suara-suara oposisi terhadap rezim yang berkuasa kini bisa kita dengar di berbagai forum. Dengan demikian kebebasan seperti tadi adalah berkah demokrasi yang sudah seharusnya “disyukuri”. Jadi demokrasi jangan dikutuk, karena ia telah berjasa besar membuat kita bebas berbicara sebagaimana saat ini. Ketika muncul orang-orang yang tidak suka terhadap demokrasi, pada hakikatnya mereka sedang menipu diri mereka sendiri. Sebab, mereka tidak sadar bahwa mereka sedang menikmati “anugerah” yang diberikan demokrasi.

Benarkah demikian? Hal ini mungkin benar bagi orang-orang yang menganggap demokrasi membawa kebaikan dan berkah. Namun orang-orang yang mengutuk demokrasi itu (termasuk saya), tidak pernah sama sekali menganggap demokrasi sebagai kebaikan dan berkah. Justru demokrasi membawa bencana dan malapetaka besar bagi kehidupan kita sekarang ini. Demokrasi telah banyak menghabiskan uang rakyat dengan pagelaran pemilu yang selalu gagal menghasilkan pemimpin yang adil dan bijaksana. Karena demokrasi pula negeri kita tetap berada di bawah cengkeraman asing yang tidak berkesudahan. Gara-gara demokrasi lahirlah berbagai undang-undang yang berpotensi menyengsarakan rakyat dan membuat orang asing dengan bebas mengangkangi sumber daya alam kita. Gara-gara demokrasi pemerintahan kita dikontrol total oleh para konglomerat. Lantas di mana berkahnya demokrasi? Apakah hanya karena demokrasi itu telah membuat kita bebas berbicara kemudian dengan serta merta kita menganggap dia membawa berkah? Naif dan simplistik sekali.

Sudah saatnya kita melepaskan diri kita dari cengkeraman demokrasi. Demokrasilah yang telah membuat kita hidup sengsara dalam cengkeraman penjajahan global.

Sayf Muhammad Isa on sabfacebook
Sayf Muhammad Isa
Saya adalah no one. Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma seorang anak laki-laki biasa yang bernama Muhammad Isa. Katanya saya dilahirkan pada tanggal 3 Juni 1986, di RSUD R. Syamsuddin, SH, Sukabumi. Bapak saya orang Padang, ibu orang Sunda. Saya menamatkan SD sampai SMP di Bekasi, kemudian pindah lagi ke Sukabumi. Masa-masa SMA saya lewati di Sukabumi.

Tapi kemudian saya menyadari, bahwa hidup yang menakjubkan dari Allah ini begitu berharganya kalau hanya dilewati sebagai no one. Saya ingin menjadi some one. Menjadi some one itu pilihan. Kalau saya tidak memutuskan menjadi some one, selamanya saya akan tetap menjadi no one. Hidup menjadi no one sangat menjemukan. Maka saya pun memilih. Saya merenungkan dengan cara apa saya akan menjadi some one, dan saya memutuskan bahwa saya akan menjadi some one dengan menulis. Tapi bukan sekedar menulis, saya hanya ingin menuliskan perjuangan. Perjuangan mempertahankan Islam, perjuangan menyerukan Islam, dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Dengan cara itu saya ingin membuat hidup saya berwarna dan luar biasa. Mari sama-sama menjadi some one.

Sayf Muhammad Isa

Saya adalah no one. Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma seorang anak laki-laki biasa yang bernama Muhammad Isa. Katanya saya dilahirkan pada tanggal 3 Juni 1986, di RSUD R. Syamsuddin, SH, Sukabumi. Bapak saya orang Padang, ibu orang Sunda. Saya menamatkan SD sampai SMP di Bekasi, kemudian pindah lagi ke Sukabumi. Masa-masa SMA saya lewati di Sukabumi. Tapi kemudian saya menyadari, bahwa hidup yang menakjubkan dari Allah ini begitu berharganya kalau hanya dilewati sebagai no one. Saya ingin menjadi some one. Menjadi some one itu pilihan. Kalau saya tidak memutuskan menjadi some one, selamanya saya akan tetap menjadi no one. Hidup menjadi no one sangat menjemukan. Maka saya pun memilih. Saya merenungkan dengan cara apa saya akan menjadi some one, dan saya memutuskan bahwa saya akan menjadi some one dengan menulis. Tapi bukan sekedar menulis, saya hanya ingin menuliskan perjuangan. Perjuangan mempertahankan Islam, perjuangan menyerukan Islam, dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Dengan cara itu saya ingin membuat hidup saya berwarna dan luar biasa. Mari sama-sama menjadi some one.