0

Mengkritisi Ungkapan “Pacaran Setelah Nikah”

Kita kerap kali mendengar kalangan aktifis Islam yang melontarkan istilah pacaran setelah nikah. Kemudian di beberapa buku motivasi cinta Islami kita juga sering kali menemukan istilah ini menghiasi sampul depannya. Dari berbagai hal yang saya tangkap, sepertinya istilah ini ingin menggambarkan bahwa segala aktifitas yang biasa dilakukan oleh orang yang sedang pacaran (seperti berduaan, berpegangan tangan, bermesraan, mencium, memeluk, dst.) mestinya dilakukan setelah kokoh ijab kabul pernikahan. Dengan kata lain, pacaran setelah nikah.

Sebelumnya saya ingin mengungkapkan bahwa saya tertarik membicarakan tema ini setelah membaca status fb rekan saya yang sangat inspiratif, mas Adi Wijaya. Di dalam statusnya beliau pun mengkritisi istilah itu. Sejak awal sebenarnya saya sudah ‘geli’ dengan ungkapan itu, dan dasar dari ‘kegelian’ saya pun cukup beralasan.

Saya ingin menyepakati dulu pengertian nikah dan pacaran. Sebab dua hal ini ternyata sangat berbeda seperti langit dan bumi. Nikah adalah sebuah syariat Allah berupa ijab kabul untuk menghalalkan hubungan antara seorang lelaki dan seorang perempuan untuk saling mencintai dan bergaul sebagai suami-istri. Dengan kata lain di dalam akad pernikahan itu Allah menghalalkan seorang lelaki dan seorang perempuan untuk bermesraan dan bahkan melakukan hal-hal yang ‘lebih’ dari itu. Pacaran pun melibatkan sebuah akad yang terjadi antara lelaki dan perempuan untuk saling mencintai (biasanya disebut dengan ‘nembak’). Hanya saja akad pacaran ini bathil, tidak pernah diajarkan oleh Islam dan bahkan diharamkan.

Dengan demikian jelaslah bahwa kata nikah memiliki muatan makna yang khusus. Dan kata pacaran pun telah memiliki muatan makna yang khusus. Jelaslah bahwa kedua kata yang telah memiliki makna khusus itu tidak boleh lagi sembarangan dipakai. Penggunaannya harus sesuai dengan konteks makna kata itu sendiri. Lebih dari itu, di dalam syariat Islam, pacaran itu hukumnya haram, sementara nikah hukumnya halal. Kedua kata ini jelas-jelas berseberangan.

Berdasarkan pandangan seperti inilah sangat aneh sekali jika muncul ungkapan pacaran setelah nikah. Kenapa di dalam aktifitas nikah yang halal ada aktifitas pacaran yang haram? Kalau begitu sama saja dengan ungkapan makan daging babi setelah daging ayam. Dengan kata lain, melakukan keharaman dan kehalalan pada saat yang bersamaan. After all, pacaran ya pacaran, nikah ya nikah. Jangan dicampur-campur.

Sayf Muhammad Isa on Facebook
Sayf Muhammad Isa
Saya adalah no one. Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma seorang anak laki-laki biasa yang bernama Muhammad Isa. Katanya saya dilahirkan pada tanggal 3 Juni 1986, di RSUD R. Syamsuddin, SH, Sukabumi. Bapak saya orang Padang, ibu orang Sunda. Saya menamatkan SD sampai SMP di Bekasi, kemudian pindah lagi ke Sukabumi. Masa-masa SMA saya lewati di Sukabumi.

Tapi kemudian saya menyadari, bahwa hidup yang menakjubkan dari Allah ini begitu berharganya kalau hanya dilewati sebagai no one. Saya ingin menjadi some one. Menjadi some one itu pilihan. Kalau saya tidak memutuskan menjadi some one, selamanya saya akan tetap menjadi no one. Hidup menjadi no one sangat menjemukan. Maka saya pun memilih. Saya merenungkan dengan cara apa saya akan menjadi some one, dan saya memutuskan bahwa saya akan menjadi some one dengan menulis. Tapi bukan sekedar menulis, saya hanya ingin menuliskan perjuangan. Perjuangan mempertahankan Islam, perjuangan menyerukan Islam, dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Dengan cara itu saya ingin membuat hidup saya berwarna dan luar biasa. Mari sama-sama menjadi some one.

Sayf Muhammad Isa

Saya adalah no one. Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma seorang anak laki-laki biasa yang bernama Muhammad Isa. Katanya saya dilahirkan pada tanggal 3 Juni 1986, di RSUD R. Syamsuddin, SH, Sukabumi. Bapak saya orang Padang, ibu orang Sunda. Saya menamatkan SD sampai SMP di Bekasi, kemudian pindah lagi ke Sukabumi. Masa-masa SMA saya lewati di Sukabumi. Tapi kemudian saya menyadari, bahwa hidup yang menakjubkan dari Allah ini begitu berharganya kalau hanya dilewati sebagai no one. Saya ingin menjadi some one. Menjadi some one itu pilihan. Kalau saya tidak memutuskan menjadi some one, selamanya saya akan tetap menjadi no one. Hidup menjadi no one sangat menjemukan. Maka saya pun memilih. Saya merenungkan dengan cara apa saya akan menjadi some one, dan saya memutuskan bahwa saya akan menjadi some one dengan menulis. Tapi bukan sekedar menulis, saya hanya ingin menuliskan perjuangan. Perjuangan mempertahankan Islam, perjuangan menyerukan Islam, dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Dengan cara itu saya ingin membuat hidup saya berwarna dan luar biasa. Mari sama-sama menjadi some one.