0

Kasih Sayang Bagi Semesta

Ada orang-orang yang nuduh Islam sebagai agama yang barbar, nggak beradab, dan nggak berperikemanusiaan. Mereka nuduh kayak gitu karena –katanya- Islam disebarkan dengan pedang dan peperangan. Katanya, Islam nggak kenal kompromi, siapa yang nggak mau masuk Islam pasti bakal langsung ditebas pake pedang. Apakah tuduhan-tuduhan ini benar? Yuk kita lihat apa yang terjadi pada peristiwa Perang Salib.

Perang Salib berawal dari sebuah khutbah dari Paus Urbanus II pada tanggal 25 November 1095 di Konsili Clermont. Pada pertemuan itu, di hadapan para kesatria, pendeta, dan orang-orang miskin, Paus menyerukan perang suci untuk melawan kaum Muslim. Paus mengatakan bahwa orang-orang Turki Saljuk adalah ras barbar dari Asia Tengah yang baru saja masuk Islam, yang terus merangsek maju menyerbu Anatolia. Turki Saljuk telah merebut banyak wilayah di Anatolia dari Kekaisaran Bizantium Kristen. Setelah para kesatria Kristen itu membersihkan Anatolia dari kotoran-kotoran Turki Saljuk, kewajiban mereka selanjutnya adalah berbaris rapi menuju Yerusalem dan merebut kota suci itu dari tangan bangsa kafir. Memalukan sekali jika Maka Kristus berada di tangan kaum Muslim.

Kabar tentang seruan itu pun menyebar ke mana-mana dan disambut dengan sangat antusias. Pada musim semi tahun 1096, berangkatlah 5 pasukan yang terdiri dari 60.000 prajurit. Pada musim gugur, gelombang pertama tadi disusul oleh sejumlah pasukan yang lebih besar lagi, sebanyak 100.000 prajurit. Pasukan-pasukan itu diiringi oleh para peziarah dan pendeta yang tidak bersenjata. Mereka semua bergerak ke arah timur.

Pada tanggal 15 Juli 1099, pasukan salib berhasil membobol Yerusalem. Mereka membunuh orang-orang Saracen (Muslim) dan orang Turki yang mereka temukan. Tidak peduli laki-laki ataupun perempuan. Besoknya, pasukan salib memanjat atap Al-Aqsha, dan membantai sekelompok kaum Muslim yang sebelumnya telah menerima perjanjian untuk dilindungi. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki berserakan di jalan-jalan kota. Sampai-sampai orang yang berjalan di situ harus berhati-hati agar kakinya tidak menginjak bangkai laki-laki dan kuda. Di Kuil Sulaiman bahkan terjadi banjir darah hingga setinggi lutut. Puluhan ribu kaum Mulism dan Yahudi dibunuh ketika itu.

Kira-kira 88 tahun kemudian, pada tanggal 2 Oktober 1187, Salahuddin al Ayubi merebut kembali Yerusalem dari pasukan salib. Ribuan orang Kristen berada di dalam kota dan menunggu takdir mematikan mereka. Mereka menyangka bahwa Salahuddin akan membalas dendam kepada mereka, persis seperti ketika pasukan salib membantai umat Muslim pada tahun 1099. Tetapi Islam adalah kasih sayang bagi semesta. Salahuddin tidak melakukan pembantaian itu, padahal dia sangat mampu melakukannya. Dia malah menetapkan tebusan yang sangat rendah bagi para tawanan Kristen agar mereka sanggup membebaskan diri mereka sendiri. Ketika banyak tawanan itu yang nggak sanggup menebus dirinya sendiri, bahkan Salahuddin merogoh koceknya sendiri untuk menebus para tawanan itu. Itu pulalah yang dilakukan oleh saudaranya, Al-Adil. Apa yang dilakukan oleh pemuka Kristen malah lebih memalukan. Setelah menebus dirinya sendiri, Patriach Heraklius pergi begitu saja meninggalkan ribuan orang Kristen dengan membawa seluruh hartanya. Padahal semua hartanya itu sanggup menebus ribuan tawanan Kristen. Dari kilasan sejarah ini, keliatan siapa sih yang sebenernya barbar dan nggak berperikemanusiaan.

Sayf Muhammad Isa on Facebook
Sayf Muhammad Isa
Saya adalah no one. Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma seorang anak laki-laki biasa yang bernama Muhammad Isa. Katanya saya dilahirkan pada tanggal 3 Juni 1986, di RSUD R. Syamsuddin, SH, Sukabumi. Bapak saya orang Padang, ibu orang Sunda. Saya menamatkan SD sampai SMP di Bekasi, kemudian pindah lagi ke Sukabumi. Masa-masa SMA saya lewati di Sukabumi.

Tapi kemudian saya menyadari, bahwa hidup yang menakjubkan dari Allah ini begitu berharganya kalau hanya dilewati sebagai no one. Saya ingin menjadi some one. Menjadi some one itu pilihan. Kalau saya tidak memutuskan menjadi some one, selamanya saya akan tetap menjadi no one. Hidup menjadi no one sangat menjemukan. Maka saya pun memilih. Saya merenungkan dengan cara apa saya akan menjadi some one, dan saya memutuskan bahwa saya akan menjadi some one dengan menulis. Tapi bukan sekedar menulis, saya hanya ingin menuliskan perjuangan. Perjuangan mempertahankan Islam, perjuangan menyerukan Islam, dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Dengan cara itu saya ingin membuat hidup saya berwarna dan luar biasa. Mari sama-sama menjadi some one.

Sayf Muhammad Isa

Saya adalah no one. Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma seorang anak laki-laki biasa yang bernama Muhammad Isa. Katanya saya dilahirkan pada tanggal 3 Juni 1986, di RSUD R. Syamsuddin, SH, Sukabumi. Bapak saya orang Padang, ibu orang Sunda. Saya menamatkan SD sampai SMP di Bekasi, kemudian pindah lagi ke Sukabumi. Masa-masa SMA saya lewati di Sukabumi. Tapi kemudian saya menyadari, bahwa hidup yang menakjubkan dari Allah ini begitu berharganya kalau hanya dilewati sebagai no one. Saya ingin menjadi some one. Menjadi some one itu pilihan. Kalau saya tidak memutuskan menjadi some one, selamanya saya akan tetap menjadi no one. Hidup menjadi no one sangat menjemukan. Maka saya pun memilih. Saya merenungkan dengan cara apa saya akan menjadi some one, dan saya memutuskan bahwa saya akan menjadi some one dengan menulis. Tapi bukan sekedar menulis, saya hanya ingin menuliskan perjuangan. Perjuangan mempertahankan Islam, perjuangan menyerukan Islam, dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Dengan cara itu saya ingin membuat hidup saya berwarna dan luar biasa. Mari sama-sama menjadi some one.