0

Islam Disebarkan Dengan Pedang? (Bagian 1)

Banyak kalangan yang telah terjebak dengan islamophobia (kebencian kepada Islam) menganggap bahwa tersebarnya Islam hingga meluas ke berbagai belahan dunia dengan menggunakan pedang. Islam mengobarkan perang kesana-kemari, kemudian memaksa orang-orang yang ditaklukkannya untuk memeluk Islam. Mereka kemudian melekatkan Islam dengan kekerasan, dan melekatkan Islam dengan imej mengerikan dan barbar. Ujung dari propaganda ini adalah penolakan terhadap penerapan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh) dalam naungan Khilafah Islamiyah.

Jika kita teliti sumber-sumber hukum Islam, yakni Alquran dan Assunnah, serta perjalanan sejarah Islam secara objektif dan jujur, tentunya kita akan menemukan bahwa peradaban Islam adalah peradaban yang paling santun dalam menggunakan pedang (kekerasan). Islam adalah satu-satunya agama dan ideologi yang mengatur tatakarama perang, sementara ideologi dan agama lain mengabaikan hal ini. Dan pengabaian ini mengakibatkan kekejian serta pembantaian, sekaligus kejahatan perang. Sebelum kita membahas bagaimana keagungan Islam dalam perang, mari kita bicarakan bagaimana keji dan biadabnya kaum kafir ketika berperang.

Kekejian Kaum Kafir

Salah satu peperangan yang terkenal antara Islam dengan Kristen adalah Perang Salib, orang Barat menyebutnya The Crudade. Perang Salib diawali oleh sebuah khotbah yang disampaikan oleh Paus Urbanus II di depan Konsili Clermont pada tanggal 25 November 1095. Khotbah yang disampaikan di hadapan petani, kesatria, dan para pendeta itu menyerukan agar orang Kristen Eropa melupakan semua permusuhan antara diri mereka sendiri, dan mengerahkan kekuatan mereka untuk memerangi orang Islam. Bangsa Turki Saljuk, kata sang Paus, adalah bangsa yang baru saja memeluk Islam, mereka adalah “ras yang terkutuk, ras yang sungguh-sungguh jauh dari tuhan, orang-orang yang hatinya sungguh tidak mendapat petunjuk dan jiwanya tidak diurus tuhan” (Karen Armstrong, Perang Suci, hal 27). Paus menjelaskan bahwa Turki Saljuk telah mengobrak-abrik Anatolia dan merebut wilayah-wilayah yang seharusnya masuk ke dalam Kekaisaran Byzantium. Setelah kaum Kristen menghabisi orang-orang Turki, mereka harus berbaris menuju tanah suci Palestina, kemudian merebut Jerusalem dari tangan orang Islam, dan membebaskan makam Yesus Kristus. Adalah memalukan bagi orang Kristen jika makam Yesus Kristus dikuasai oleh orang Islam.

Efek dari seruan ini amat luarbiasa. Kaum Kristen Eropa seolah-olah dikuasai oleh gairah keimanan yang amat kuat. Mereka meyakini bahwa membunuh orang Islam adalah sebuah pekerjaan suci. Pada musim semi tahun 1096 (jadi setahun kemudian), berangkatlah lima pasukan yang terdiri dari 60.000 tentara. Para tentara itu diiringi oleh para peziarah, mereka semua bergerak ke timur.

Pada tanggal 7 Juni 1099, tentara salib telah tiba di benteng kota Jerusalem. Histeria massa merebak dengan tiba-tiba, banyak prajurit yang tiba-tiba histeris dan menangis sejadi-jadinya karena melihat kota suci mereka. Pada tanggal 15 Juli 1099, pasukan salib mendesak kota Jerusalem dan kemudian menaklukkannya. Ketika itulah kota suci yang telah ditaklukkan oleh Umar bin Khaththab dengan jalan damai sejak ratusan tahun yang lalu berhasil direbut oleh tentara salib. Dan apa yang terjadi kemudian adalah bencana yang amat mengerikan. Karen Armstrong mengisahkan hal ini di dalam karyanya, Perang Suci.

Selama dua hari, tentara salib membantai kaum saracen (sebutan mereka terhadap muslim). Bahkan bukan cuma muslim, mereka juga membantai orang Yahudi. Penulis Gesta mengungkapkan, “mereka membunuh baik lelaki mau pun perempuan.” Keesokan harinya tentara salib memanjat kubah masjid al Aqsha dan membantai sekelompok muslim yang telah dijanjikan untuk mendapatkan perlindungan. Mereka menganggap orang Islam adalah penyakit berbahaya yang harus segera dimusnahkan dari kota suci. Dan jargon yang berkembang ketika itu untuk menyebut orang Islam adalah “najis”. Seorang saksi mata yang bernama Raymond de Aguiles menceritakan hari yang mengerikan itu.

“Sejumlah pemandangan indah mesti disaksikan. Beberapa tentara kami (dan yang ini sudah termasuk cukup bermurah hati) memenggal kepala para musuh mereka, yang lain memanah mereka sehingga mereka jatuh dari menara-menara. Yang lain menyiksa mereka lebih lama dengan membakar mereka. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki, dapat dilihat di jalan-jalan kota. Sampai-sampai orang yang berjalan di situ harus berhati-hati agar langkah kakinya tidak menginjak bangkai lelaki dan kuda. Tapi semua itu tidak berarti dengan semua yang terjadi di Kuil Sulaiman, tempat biasanya dilaksanakan berbagai upacara keagamaan. Apa yang terjadi di sana? Jika kukatakan yang sebenarnya, pasti itu akan melampaui kemampuan kalian untuk memercayainya. Jadi cukuplah kukatakan bahwa, paling tidak, di Kuil Sulaiman dan berandanya, pasukan kami menunggangi kuda yang bergerak di antara genangan darah setinggi lutut dan tali kekang kuda mereka. Benarlah itu suatu hukuman yang adil dan bagus dari tuhan, sehingga tempat ini dipenuhi oleh darah kaum tak beriman, karena tempat ini telah menderita begitu lama karena pelecehan mereka.”

Genangan darah setinggi kaki dan tali kekang kuda, sebuah pembantaian yang amat mengerikan dan memilukan. Sebanyak 40.000 jiwa kaum muslim tewas hanya dalam dua hari. Kekejian macam apa ini? Kenapa hal ini bisa terjadi? Jelas saja, sebab di dalam agama Kristen tidak ada aturan perang sama sekali. Karena itu yang kemudian berbicara adalah hawa nafsu yang rendah. Pada artikel selanjutnya akan bicarakan bagaimana santunnya Islam dalam berperang. Insya Allah.

Sayf Muhammad Isa on Facebook
Sayf Muhammad Isa
Saya adalah no one. Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma seorang anak laki-laki biasa yang bernama Muhammad Isa. Katanya saya dilahirkan pada tanggal 3 Juni 1986, di RSUD R. Syamsuddin, SH, Sukabumi. Bapak saya orang Padang, ibu orang Sunda. Saya menamatkan SD sampai SMP di Bekasi, kemudian pindah lagi ke Sukabumi. Masa-masa SMA saya lewati di Sukabumi.

Tapi kemudian saya menyadari, bahwa hidup yang menakjubkan dari Allah ini begitu berharganya kalau hanya dilewati sebagai no one. Saya ingin menjadi some one. Menjadi some one itu pilihan. Kalau saya tidak memutuskan menjadi some one, selamanya saya akan tetap menjadi no one. Hidup menjadi no one sangat menjemukan. Maka saya pun memilih. Saya merenungkan dengan cara apa saya akan menjadi some one, dan saya memutuskan bahwa saya akan menjadi some one dengan menulis. Tapi bukan sekedar menulis, saya hanya ingin menuliskan perjuangan. Perjuangan mempertahankan Islam, perjuangan menyerukan Islam, dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Dengan cara itu saya ingin membuat hidup saya berwarna dan luar biasa. Mari sama-sama menjadi some one.

Sayf Muhammad Isa

Saya adalah no one. Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma seorang anak laki-laki biasa yang bernama Muhammad Isa. Katanya saya dilahirkan pada tanggal 3 Juni 1986, di RSUD R. Syamsuddin, SH, Sukabumi. Bapak saya orang Padang, ibu orang Sunda. Saya menamatkan SD sampai SMP di Bekasi, kemudian pindah lagi ke Sukabumi. Masa-masa SMA saya lewati di Sukabumi. Tapi kemudian saya menyadari, bahwa hidup yang menakjubkan dari Allah ini begitu berharganya kalau hanya dilewati sebagai no one. Saya ingin menjadi some one. Menjadi some one itu pilihan. Kalau saya tidak memutuskan menjadi some one, selamanya saya akan tetap menjadi no one. Hidup menjadi no one sangat menjemukan. Maka saya pun memilih. Saya merenungkan dengan cara apa saya akan menjadi some one, dan saya memutuskan bahwa saya akan menjadi some one dengan menulis. Tapi bukan sekedar menulis, saya hanya ingin menuliskan perjuangan. Perjuangan mempertahankan Islam, perjuangan menyerukan Islam, dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Dengan cara itu saya ingin membuat hidup saya berwarna dan luar biasa. Mari sama-sama menjadi some one.