0

Dakwah Nabi di Masa Modern

Menggulirkan perubahan di tengah-tengah masyarakat tidaklah mudah. Setidaknya perlu dirumuskan terlebih dahulu dua hal penting yakni: 1. Analisis tentang apakah permasalahan mendasar masyarakat? 2. Metode perubahan apa yang cocok dan hendak digunakan untuk mengadakan perubahan terhadap kondisi masyarakat tersebut. Dua hal ini sangat berkaitan erat seperti dua sisi mata uang. Jika satu poin saja keliru, maka perubahan yang diharapkan itu tidak akan terjadi. Kalau pun terjadi perubahan, maka itu hanyalah tambal sulam belaka dari kerusakan yang telah ada lebih dulu, dan dalam waktu dekat kerusakan itu akan semakin parah. Yang kemudian akan menjadi korban adalah masyarakat pula.

Syekh Taqiyuddin an Nabhani dalam kitabnya yang berjudul Nizhomul Islam menjelaskan kepada kita bahwa bangkit atau tidaknya manusia tergantung dari bagaimana pemikirannya tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan. Dengan kata lain faktor pemikiran mendasar ini adalah faktor penentu bangkit atau tidaknya manusia.

Saat ini manusia sedang dikungkung oleh pemikiran yang rusak tentang manusia, alam semesta, dan kehidupan. Di atas pemikiran yang rusak inilah kemudian dibangun berbagai sistem yang diterapkan di tengah-tengah manusia, yang kemudian membawa kerusakan pula. Pemikiran rusak yang kemudian diterapkan sebagai sistem yang rusak itulah yang membawa bencana di berbagai bidang. Pemikiran dan sistem rusak itulah yang disebut oleh Allah swt sebagai thagut. Ia menjadi ujung-pangkal dari malapetaka. Dengan kata lain, seluruh pemikiran dan sistem yang tidak berasal dari wahyu Allah itu adalah thagut, dan salah satunya adalah ideologi kapitalisme-sekular yang saat ini sedang diterapkan. Rumusan masalah mendasar yang digagas oleh Syekh Taqiyuddin an Nabhani ini kemudian diperkuat dengan ayat Allah dalam surah Ar-Ra’du ayat 11, “Sesungguhnya, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka yang mengubah keadaan mereka sendiri.”

Lafaz “ma” adalah isim mausul, yang merupakan kata ganti yang bermakna “apa saja”. Dalam tafsir jalalain disebutkan bahwa makna “ma” di dalam ayat ini adalah segala nikmat dari Allah swt. Nikmat yang terbesar adalah nikmat iman dan Islam. Dengan demikian cara agar Allah mau mengubah nasib kita adalah dengan mengubah cara berpikir kita yang awalnya bertentangan dengan keimanan kepada Allah menjadi sejalan dengannya. Jelaslah jika kita ingin mengadakan perubahan secara mendasar di tengah-tengah masyarakat, maka yang harus dilakukan adalah mengubah pemikiran mereka tentang manusia, alam semesta, dan kehidupan yang dari sana nantinya akan terbentuk keimanan kepada Allah swt. Jika telah terbentuk perubahan pemikiran di tengah-tengah masyarakat, maka kelak masyarakat itu sendirilah yang akan menuntut perubahan ke arah Islam dengan cara mengganti seluruh sistem yang rusak ini dengan syariat Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah Islamiyah.

Untuk mewujudkan perubahan seperti ini, kita tidak bisa menempuh jalan pemilu. Sebab memang pemilu tidak didesain untuk mewujudkan perubahan seperti ini. Tidak juga dengan jihad, sebab jihad bukanlah sebuah metode untuk mengubah pemikiran, tetapi sebuah metode untuk menghilangkan rintangan fisik yang menghalangi sampainya pemikiran Islam. Lantas bagaimanakah metode perubahan itu? Tentu saja dengan mencontoh metode dakwah Rasulullah saw sepanjang hayat beliau.

Untuk meneladani metode dakwah Rasulullah ini kita tidak bisa mengatakan “jaman Rasul berbeda dengan jaman sekarang.” Sebab apa pun yang diajarkan Rasul berlaku di setiap jaman. Penjelasan lainnya adalah karena kondisi yang berubah di setiap jaman itu hanyalah lingkup material yang mengelilingi manusia. Sementara manusia itu dan tabiatnya sebagai manusia itu sendiri tidak berubah. Jadi metode dakwah Rasul akan tetap relevan di jaman mana pun.

Dakwah Rasul di Jaman Modern

Kondisi kita saat ini sama dengan kondisi ketika Rasulullah berdakwah di Makkah, yakni tiadanya sebuah sebuah negara yang menerapkan syariat Islam secara total. Dengan demikian dakwah kita untuk mengubah masyarakat pada jaman modern ini wajiblah mencontoh metode dakwah Rasulullah pada periode Makkah. Perjalanan dakwah Rasulullah terbagi ke dalam tiga periode.

  1. Periode Tatsqif. Periode ini berjalan sejak Rasulullah mendapatkan wahyu kedua yakni surat Al Mudatsir ayat 1-7. Pada periode ini Rasulullah berdakwah secara sembunyi-sembunyi walau pun keberadaan Islam tetap saja diketahui oleh masyarakat Quraisy tetapi belum dipedulikan karena dirasa belum menjadi ancaman. Pada periode ini Rasulullah membina para sahabat dengan berbagai pemikiran Islam secara intensif di rumah Arqam bin Abi Arqam. Sehingga dengan pembinaan yang intensif inilah terbentuk insan-insan yang berkepribadian Islam. Dan terbentuk pula partai dakwah Rasulullah saw. Periode ini berakhir ketika Allah menurunkan surat al Hijr ayat 94 yang memerintahkan beliau mendakwah Islam secara terang-terangan.
  2. Periode Tafa’ul Ma’al Ummah. Walau pun fase dakwah telah berpindah kepada fase tafa’ul ma’al ummah, bukan berarti pembinaan dihentikan. Pembinaan tetap saja berjalan, dan malah aktifitasnya bertambah ketika sudah memasuki periode kedua ini, yaitu berdakwah di tengah-tengah umat secara tegas dan jelas. Pada periode inilah berbagai bahaya mulai bermunculan bagi para sahabat dan seluruh orang yang mendukung dakwah Rasulullah saw. Sebab pada periode ini dakwah Islam mulai dirasakan membawa bahaya bagi seluruh tatanan sosial-politik kaum Qurays. Karena itulah terjadi berbagai penyiksaan dan pembunuhan terhadap kaum muslim yang notabene berasal dari kalangan yang lemah seperti budak dan pekerja, serta orang-orang miskin.

Periode Istilamul Hukmi. Periode ini adalah diraihnya kemenangan dengan masuk Islamnya kafilah haji dari bani Aus dan Khazraj yang berasal dari Yastrib (namanya kemudian berganti jadi Madinah). Dua suku dari madinah ini kemudian memberikan kekuasaan politik mereka di madinah dengan cara membai’at Rasulllah untuk menaati setiap perintah Rasulullah (menerapkan syariat Islam secara kaffah). Peristiwa ini diawali dengan tahun kesedihan (‘amul huzn). Ketika itu Rasul dirundung malang karena kedua pelindung dakwah beliau kembali kepada Allah, yakni Abu Thalib dan Khadijah. Setelah itu Rasul dikirim ke langit ketujuh dalam peristiwa isra mi’raj. Pasca isra’ mi’raj. Rasul melakukan Thalabun Nushrah. Dengan metode inilah kekuasaan untuk menerapkan syariat Islam bisa diraih.

Sayf Muhammad Isa on Facebook
Sayf Muhammad Isa
Saya adalah no one. Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma seorang anak laki-laki biasa yang bernama Muhammad Isa. Katanya saya dilahirkan pada tanggal 3 Juni 1986, di RSUD R. Syamsuddin, SH, Sukabumi. Bapak saya orang Padang, ibu orang Sunda. Saya menamatkan SD sampai SMP di Bekasi, kemudian pindah lagi ke Sukabumi. Masa-masa SMA saya lewati di Sukabumi.

Tapi kemudian saya menyadari, bahwa hidup yang menakjubkan dari Allah ini begitu berharganya kalau hanya dilewati sebagai no one. Saya ingin menjadi some one. Menjadi some one itu pilihan. Kalau saya tidak memutuskan menjadi some one, selamanya saya akan tetap menjadi no one. Hidup menjadi no one sangat menjemukan. Maka saya pun memilih. Saya merenungkan dengan cara apa saya akan menjadi some one, dan saya memutuskan bahwa saya akan menjadi some one dengan menulis. Tapi bukan sekedar menulis, saya hanya ingin menuliskan perjuangan. Perjuangan mempertahankan Islam, perjuangan menyerukan Islam, dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Dengan cara itu saya ingin membuat hidup saya berwarna dan luar biasa. Mari sama-sama menjadi some one.

Sayf Muhammad Isa

Saya adalah no one. Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma seorang anak laki-laki biasa yang bernama Muhammad Isa. Katanya saya dilahirkan pada tanggal 3 Juni 1986, di RSUD R. Syamsuddin, SH, Sukabumi. Bapak saya orang Padang, ibu orang Sunda. Saya menamatkan SD sampai SMP di Bekasi, kemudian pindah lagi ke Sukabumi. Masa-masa SMA saya lewati di Sukabumi. Tapi kemudian saya menyadari, bahwa hidup yang menakjubkan dari Allah ini begitu berharganya kalau hanya dilewati sebagai no one. Saya ingin menjadi some one. Menjadi some one itu pilihan. Kalau saya tidak memutuskan menjadi some one, selamanya saya akan tetap menjadi no one. Hidup menjadi no one sangat menjemukan. Maka saya pun memilih. Saya merenungkan dengan cara apa saya akan menjadi some one, dan saya memutuskan bahwa saya akan menjadi some one dengan menulis. Tapi bukan sekedar menulis, saya hanya ingin menuliskan perjuangan. Perjuangan mempertahankan Islam, perjuangan menyerukan Islam, dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Dengan cara itu saya ingin membuat hidup saya berwarna dan luar biasa. Mari sama-sama menjadi some one.