0

Borgia dan Kegilaannya

Belum pernah ada mimpi buruk di Vatikan seburuk ketika Keluarga Borgia menggenggam kekuasaan kepausan. Mereka tamak banget akan kekuasaan dan nggak mau berhenti untuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya. Puncak degradasi moral ini dibawa oleh Paus Alexander VI alias Rodrigo Borgia. Seorang Paus dari Keluarga Borgia yang amat memalukan, dan sangat mencoreng pamor tahta kepausan sampai sekarang.

Rodrigo Lanzol dilahirkan pada 1 Januari 1431 dari Keluarga Borgia yang sangat berkuasa. Pada abad pertengahan, para Paus diangkat dari keluarga-keluarga kaya dan berpengaruh di Eropa, hingga sebenarnya terjadi persaingan diantara keluarga-keluarga itu untuk mengangkat orang-orangnya ke tahta kepausan. Persaingan ini seringkali berdarah-darah. Beberapa keluarga yang berpengaruh itu antara lain Keluarga Medici, Barberini, Orsini, de la Rovere, dan tentu saja Keluarga Borgia.

Perjalanan Rodrigo diawali dari pamannya, Paus Kallistus III. Dengan nama asli Alonso Borgia, si Tua Bangka Paus Kallistus III mengangkat keluarga dekatnya pada jabatan-jabatan basah dan mentereng. Salah satunya adalah Rodrigo yang diangkat menjadi Kardinal pada 1456. Padahal secara tradisional seharusnya jabatan Kardinal dipegang oleh seorang yang sudah tua, dan Rodrigo belumlah layak untuk itu. orang-orang menyangka Kallistus akan cepat mati karena sudah tua, tapi ternyata orang tua ini masih bisa bertahan hidup cukup lama untuk mengangkat Rodrigo menjadi Wakil Pemimpin Gereja pada 1457, dan jabatan ini menjadikannya sebagai orang kedua setelah Paus sendiri. Rodrigo tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dengan jabatan ini dia mengeruk kekayaan yang amat banyak.

Setelah menunggu selama 34 tahun, pada 11 Agustus 1492, akhirnya Rodrigo diangkat menjadi Paus, dengan gelar Paus Alexander VI. Pada 26 Agustus diadakanlah upacara penobatan yang mewah dan megah, bahkan dikatakan melebihi kemegahan penobatan kaisar-kaisar Romawi. Prosesi berjalan sepanjang 3 km dan terdiri dari 10.000 penunggang kuda, seluruh pegawai rumah tangga kepausan, para duta besar negara-negara asing dan para kardinal yang menunggang kuda, masing-masing dikawal oleh 12 pria dalam rombongannya. Rodrigo sendiri menunggang kuda yang dihiasi dengan sebuah kanopi yang melindunginya dari sengatan sinar matahari bulan Agustus. Pawai itu berjalan pelan menembus kerumunan di kedua sisi jalan. Berbagai slogan yang beberapa diantarnya berisi penghinaan lugas atas Rodrigo tertempel di tiang-tiang di sisi jalan. Udara panas dan kerumunan yang padat itu membuat Rodrigo pingsan hingga dua kali. Namun semua itu tidak menghalanginya untuk berbisnis dengan jabatan yang dipegangnya.

Pada masa inilah dia membawa kegelapan bagi Vatikan yang memang sudah gelap. Perilaku asusila yang selama ini selalu dilakukannya ternyata tidak pernah berhenti. Bahkan lebih parah lagi, dia membawa pelacur-pelacur ke dalam tempat yang dianggap paling suci bagi orang Kristen. Dia sering kali mengadakan pesta-pesta asusila yang istilahnya dilembutkan menjadi ‘Pesta Kebun’.

Seorang sejarawan, Francesco Giucciardini, mengatakan tentang Rodrigo: “Ada sesuatu di dalam dirinya, dan dalam ukuran yang penuh, semua kejahatan baik daging dan jiwa… Tidak ada dalam dirinya agama, tidak perlu baginya untuk memegang kata-katanya. Ia menjanjikan apapun secara bebas, tetapi tidak mengikat dirinya dengan apapun yang tidak berguna baginya. Ia tidak peduli pada keadilan karena, pada zamannya, Roma adalah sarang pencuri dan pembunuh. Selain itu, segala dosanya tidak mendapatkan hukuman di dunia ini dan ia berada di dunia ini dalam keadaan makmur hingga akhir hayatnya. Dengan satu kata, ia itu lebih iblis dan memiliki keberuntungan yang jauh lebih banyak daripada paus lain dari abad-abad sebelumnya.”

Ketika Rodrigo terpilih menjadi Paus dengan jalan suap dan intimidasi, Kardinal Giovanni de Medici yang kelak menjadi Paus Leo X mengatakan: “Sekarang kita berada dalam kekuasaan seekor serigala, kemungkinan serigala paling serakah yang pernah dikenal dunia. Dan bila kita tidak melarikan diri, tak dapat dihinari lagi bahwa ia pun akan melahap kita semua.”

Rodrigo memiliki banyak anak dari hasil perzinaannya dengan kekasih-kekasih gelapnya. Rodrigo tahu betul bahwa anak-anak tidak sahnya itu bisa mencoreng reputasinya sebagai seorang Paus. Kepada Giovanni Boccario, duta besar Duchy dari Ferrara, Rodrigo berjanji bahwa ia akan memastikan seluruh keluarga tidak sahnya itu menjaga jarak dari Vatikan dan Roma. Sayangnya, janji itu hanya bertahan 5 hari saja, sebab Rodrigo kemudian mengangkat putra sulungnya, Cesare Borgia, saat itu berusia 17 tahun, sebagai Uskup Agung Valencia. Hal ini menjadikan Cesare sebagai uskup tertinggi di seluruh Spanyol. Rodrigo tidak peduli bahwa Cesare bahkan belum ditahbiskan menjadi seorang imam Kristen. Selain itu, Rodrigo mengangkat putranya yang lain, Jofre Borgia, yang baru berusia 11 tahun, untuk menjadi Diose Majorca dan mengangkatnya menjadi Diakon Agung dari katedral di Valencia.

Cesare, Jofre, Lucrezia, dan Juan, adalah anak-anak Rodrigo dari kekasih gelap pertamanya, Vanozza dei Cattani yang sudah tiga kali menikah. Tiga anak lagi: Giralomo, Pier Luigi, dan Isabella, lahir dari ibu-ibu yang berbeda. Dan yang terakhri, Laura, adalah anak dari kekasih gelap terakhir Rodrigo yang bernama Giulia Farnese. Tindakan nepotisme ini amat dicela dan dibenci oleh lawan-lawan politik Rodrigo, namun ia amat menyukai keadaan ini karena ia bisa berlindung dari musuh-musuhnya dengan adanya sanak keluarganya di sekitarnya.

Pada menjelang akhir hayatnya, Rodrigo mengalami pendarahan secara rutin. Diduga dia menderita Malaria. Ada juga yang mengatakan bahwa dia diracun. Pada 18 Agustus 1503 dia mati dan berita kematiannya dirahasiakan selama beberapa hari. Kematian dan cuaca bulan Agustus yang panas telah mengubah jenazah Rodrigo sehingga mayatnya menjadi sesuatu yang amat mengerikan untuk dilihat. Johann Burchard mencatat: “Mata jenazah itu telah berubah menjadi berwarna seperti buah mulberry atau kain yang paling gelap dan ditutupi oleh noda-noda berwarna hitam. Hidungnya membengkak, mulutnya menggelembung karena lidahnya membesar dua kali lipat dan bibirnya tampak memenuhi semua bagian itu.” Kematian Rodrigo tidak ditangisi, bahkan kutukan dan hujatan menghujani setelah kematiannya. Setiap Paus yang wafat akan mendapatkan Misa Requiem dan akan dihadiri orang ramai, tetapi misa untuk Rodrigo hanya dihadiri 4 orang saja. Francesco Picollomini, yang menggantikan Rodrigo sebagai Paus Pius III, melarang diadakannya misa-misa tambahan bagi Rodrigo. “Merupakan penghujatan untuk mendoakan orang yang terkutuk,” katanya.

Kematiannya ini membuat sanak keluarganya panik, sebab mereka tentunya tidak akan bisa menikmati semua kemewahan yang selama ini ada karena Rodrigo masih memegang jabatannya. Setelah terjadi penjarahan dan perampokan dari sanak keluarganya sendiri, berita kematian Rodrigo barulah diumumkan. Semua ini persis seperti apa yang disampaikan Allah swt. dalam Alquran, “Sesungguhnya orang-orang kafir dari golongan ahli kitab dan musyrik berada dalam neraka Jahanam. Merekalah seburuk-buruknya makhluk.” (Al-Bayyinah: 6)

Sayf Muhammad Isa on Facebook
Sayf Muhammad Isa
Saya adalah no one. Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma seorang anak laki-laki biasa yang bernama Muhammad Isa. Katanya saya dilahirkan pada tanggal 3 Juni 1986, di RSUD R. Syamsuddin, SH, Sukabumi. Bapak saya orang Padang, ibu orang Sunda. Saya menamatkan SD sampai SMP di Bekasi, kemudian pindah lagi ke Sukabumi. Masa-masa SMA saya lewati di Sukabumi.

Tapi kemudian saya menyadari, bahwa hidup yang menakjubkan dari Allah ini begitu berharganya kalau hanya dilewati sebagai no one. Saya ingin menjadi some one. Menjadi some one itu pilihan. Kalau saya tidak memutuskan menjadi some one, selamanya saya akan tetap menjadi no one. Hidup menjadi no one sangat menjemukan. Maka saya pun memilih. Saya merenungkan dengan cara apa saya akan menjadi some one, dan saya memutuskan bahwa saya akan menjadi some one dengan menulis. Tapi bukan sekedar menulis, saya hanya ingin menuliskan perjuangan. Perjuangan mempertahankan Islam, perjuangan menyerukan Islam, dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Dengan cara itu saya ingin membuat hidup saya berwarna dan luar biasa. Mari sama-sama menjadi some one.

Sayf Muhammad Isa

Saya adalah no one. Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma seorang anak laki-laki biasa yang bernama Muhammad Isa. Katanya saya dilahirkan pada tanggal 3 Juni 1986, di RSUD R. Syamsuddin, SH, Sukabumi. Bapak saya orang Padang, ibu orang Sunda. Saya menamatkan SD sampai SMP di Bekasi, kemudian pindah lagi ke Sukabumi. Masa-masa SMA saya lewati di Sukabumi. Tapi kemudian saya menyadari, bahwa hidup yang menakjubkan dari Allah ini begitu berharganya kalau hanya dilewati sebagai no one. Saya ingin menjadi some one. Menjadi some one itu pilihan. Kalau saya tidak memutuskan menjadi some one, selamanya saya akan tetap menjadi no one. Hidup menjadi no one sangat menjemukan. Maka saya pun memilih. Saya merenungkan dengan cara apa saya akan menjadi some one, dan saya memutuskan bahwa saya akan menjadi some one dengan menulis. Tapi bukan sekedar menulis, saya hanya ingin menuliskan perjuangan. Perjuangan mempertahankan Islam, perjuangan menyerukan Islam, dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Dengan cara itu saya ingin membuat hidup saya berwarna dan luar biasa. Mari sama-sama menjadi some one.