0

Abu Bakar dan Finhash

Kaum Yahudi memang banyak sekali dicela di dalam Alquran. Perilaku mereka memang benar-benar menyebalkan dan memuakkan. Hobi mereka menyekutukan Allah, melanggar perjanjian, ngomong sembarangan, berkata dusta, menghina dan membunuhi para nabi. Mereka juga hobi menyembunyikan kebenaran dan memanipulasi ayat-ayat Allah yang ada di dalam kitab-kitab mereka. Ayat-ayat yang mereka sukai akan mereka biarkan, sementara ayat-ayat yang yang terkesan menyusahkan mereka, akan mereka ubah seenak perut mereka.

Sahabat Abu Bakar Shiddiq pernah merasa sebal nggak ketulungan karena kelakuan orang-orang Yahudi. Seperti dikisahkan oleh Prof. Ali Muhammad Asholabi dalam kitab sirah-nya, beliau mengutip dari Ibnu Hisyam, Abu Bakar merasa kesal alang kepalang karena kata-kata seorang pendeta Yahudi bernama Finhash. Begini ceritanya (serem mode on).

Pada suatu hari, Abu Bakar memasuki Baytul Midras (tempat dibacakannya Taurat) kaum Yahudi. Orang-orang Yahudi mengelilingi seorang rabbi mereka yang bernama Finhash. Mereka memegang alat tulis dan kitab yang dinamakan Asy-ya’.

Abu Bakar kemudian menegur Finhash. Beliau mendakwahi rabbi Yahudi itu. “Takutlah engkau kepada Allah dan masuklah Islam. Demi Allah, sebenarnya engkau sudah tahu bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Dia telah datang bersama bukti-bukti kebenarannya yang kalian temukan tercantum dalam kitab-kitab kalian Taurat dan Injil.”

Finhash berkata kepada Abu Bakar, “Demi Tuhan, hai Abu Bakar, bukanlah kita yang membutuhkan Allah, tetapi dialah yang membutuhkan kita. Sesungguhnya Dia yang meminta-minta kepada kita. Sesungguhnya kitalah yang kaya dan bukan Dia. Kalau benar Dia kaya, tidak mungkin Dia meminjam harta kita, sebagaimana yang dikatakan nabimu itu. Dia melarang riba dari kalian, namun membolehkannya pada kami. Jika benar-benar kaya, Dia tidak akan memberikan kami riba.”

Mendengar kata Finhash, Abu Bakar marah besar. Beliau menampar Finhash dan berkata, “Demi jiwaku yang berada di tanganNya, kalau bukan karena adanya perjanjian antara kami dengan kalian, sudah kupukul kepalamu wahai musuh Allah.”

Finhash tidak terima dengan tamparan Abu Bakar. Dia segera mengadukan peristiwa itu kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu’alayhi wasallam. “Hai Muhammad, lihatlah apa yang sudah dilakukan sahabatmu!”

Rasulullah bertanya kepada Abu Bakar, “Apa yang membuatmu bertindak demikian?”

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya musuh Allah ini telah bicara melampaui batas. Dia mengaku bahwa Allah itu fakir dan merekalah yang kaya. Ketika mereka berkata begitu, aku marah karena Allah dihinakan, lalu kutampar wajahnya.”

Finhash tidak mengakui semua itu, “Aku tidak pernah mengatakan demikian,” (tuh kan ngebo’ong).

Saat itu turunlah wahyu Allah swt. untuk membongkar segala kebohongan Finhash Yahudi itu dan membenarkan Abu Bakar.

Sungguh, Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan ‘sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya.’ Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan kepada mereka, ‘rasakanlah oleh kalian azab yang membakar’” (Ali Imran: 181).

Kaum Yahudi emang biang kerok, dan udah dari dulu kaya’ begitu. Tapi Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Islam melindungi seluruh umat beragama dan tidak akan memaksa mereka masuk Islam, selama mereka mau tunduk kepada kekuasaan Islam yang mewujud sebagai Khilafah Islamiyah. Khilafah Islamiyah itulah yang sekian lama melindungi perdamaian antara penganut berbagai agama. Kewajiban kitalah untuk menegakkannya lagi di abad ini.

Sayf Muhammad Isa on Facebook
Sayf Muhammad Isa
Saya adalah no one. Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma seorang anak laki-laki biasa yang bernama Muhammad Isa. Katanya saya dilahirkan pada tanggal 3 Juni 1986, di RSUD R. Syamsuddin, SH, Sukabumi. Bapak saya orang Padang, ibu orang Sunda. Saya menamatkan SD sampai SMP di Bekasi, kemudian pindah lagi ke Sukabumi. Masa-masa SMA saya lewati di Sukabumi.

Tapi kemudian saya menyadari, bahwa hidup yang menakjubkan dari Allah ini begitu berharganya kalau hanya dilewati sebagai no one. Saya ingin menjadi some one. Menjadi some one itu pilihan. Kalau saya tidak memutuskan menjadi some one, selamanya saya akan tetap menjadi no one. Hidup menjadi no one sangat menjemukan. Maka saya pun memilih. Saya merenungkan dengan cara apa saya akan menjadi some one, dan saya memutuskan bahwa saya akan menjadi some one dengan menulis. Tapi bukan sekedar menulis, saya hanya ingin menuliskan perjuangan. Perjuangan mempertahankan Islam, perjuangan menyerukan Islam, dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Dengan cara itu saya ingin membuat hidup saya berwarna dan luar biasa. Mari sama-sama menjadi some one.

Sayf Muhammad Isa

Saya adalah no one. Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma seorang anak laki-laki biasa yang bernama Muhammad Isa. Katanya saya dilahirkan pada tanggal 3 Juni 1986, di RSUD R. Syamsuddin, SH, Sukabumi. Bapak saya orang Padang, ibu orang Sunda. Saya menamatkan SD sampai SMP di Bekasi, kemudian pindah lagi ke Sukabumi. Masa-masa SMA saya lewati di Sukabumi. Tapi kemudian saya menyadari, bahwa hidup yang menakjubkan dari Allah ini begitu berharganya kalau hanya dilewati sebagai no one. Saya ingin menjadi some one. Menjadi some one itu pilihan. Kalau saya tidak memutuskan menjadi some one, selamanya saya akan tetap menjadi no one. Hidup menjadi no one sangat menjemukan. Maka saya pun memilih. Saya merenungkan dengan cara apa saya akan menjadi some one, dan saya memutuskan bahwa saya akan menjadi some one dengan menulis. Tapi bukan sekedar menulis, saya hanya ingin menuliskan perjuangan. Perjuangan mempertahankan Islam, perjuangan menyerukan Islam, dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Dengan cara itu saya ingin membuat hidup saya berwarna dan luar biasa. Mari sama-sama menjadi some one.